| Din Syamsuddin bertemu Paus Fransiskus di Roma, Italia, 07/10/2013/ foto indonesia.ucanews.com |
تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ
الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ
عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ !
“Kamu melihat kebanyakan dari mereka
tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat
buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah
kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. (QS Al-Maaidah: 80)
Bila merujuk kepada ayat Allah Ta’ala dan penjelasan Ulama
yang terpercaya, tampaknya makin bermunculan orang yang perlu dipertanyakan
wala’ (loyalityasnya/ kecintaanya) dan Bara’ (berlepas diri)nya.
Seharusnya, wala’ setiap Muslim apalagi tokoh Islam adalah
kepada Allah, Rasul-Nya, Islam, dan Umat Isam. Sebaliknya, bara’nya adalah
kepada setiap kekufuran, pelakunya, pendukungnya dan aneka rangkaiannya.
Namun sangat disayangkan, Ormas-ormas Islam terutama yang
besar telah menjadi pemandangan yang tak sesuai dengan tuntutan wala’ dan baro’
itu, akibat tingkah-tingkah para pentolannya. Ada tokoh-tokohnya yang
terang-terangan bercumbu mesra dengan pentolan-pentolan kekufuran, kesesatan,
dan para penyesat, baik tingkat dunia maupun local. Bahkan berani merelakan
dirinya berkiprah bersama dalam kepentingan atau acara-acara kekufuran mereka
(pihak non Islam) atau pihak sesat yang membahayakan Islam seperti Syiah. Semua
itu sebenrnya adalah menipu diri mereka sendiri, dan kalau ditirukan orang pun
dosanya akan menimpa pula kepada pemberi contoh buruk itu, tanpa berkurang dari
dosa para penirunya.
Benarlah firman Allah Ta’ala:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ
أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا وَمَا يَمْكُرُونَ إِلا بِأَنْفُسِهِمْ
وَمَا يَشْعُرُونَ (١٢٣)
Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri
pembesar-pembesar yang jahat
agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu.
Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya
sendiri, sedang mereka tidak
menyadarinya. (QS Al-An’aam/ 6: 123). (Terjemahan ini menurut Al-Quran dan Tafsirnya,
Depag RI 1985/1986, juz 8 halaman
266).
Lafal أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا
akaabiro mujrimiihaa itu terjemah Depag sendiri ada dua macam.
1, penjahat-penjahat yang
terbesar (dalam Al-Quran dan Terjemahnya, Depag
RI 1971, halaman 208),
dan 2, pembesar-pembesar yang
jahat (dalam Al-Quran dan Tafsirnya,
Depag RI 1985/1986, juz 8 halaman
266). Dua makna itu berbeda
pengertiannya. Yang satu pembesar-pembesarnya yang jahat, sedang yang
satunya lagi penjahat-penjahatnya yang besar.
Inilah berita, dan di bagian bawah ada ayat-ayat Allah yang
insya Allah bermanfaat.
***
Din Syamsuddin Pidato di Sidang Raya Dewan Gereja Sedunia
Jakarta (SI Online) - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Din Syamsuddin menyampaikan pidato di Sidang Raya Dewan Gereja Sedunia ke-10
(The 10th Assembly of World Council of Churches) di Busan, Korea Selatan,
Selasa (5/11/2013).
Din Syamsuddin dari Korea Selatan, Rabu, menyebutkan sidang
yang diselenggarakan tujuh tahun sekali itu, dihadiri sekitar 3.000 tokoh
gereja Kristen Protestan berasal dari berbagai negara.
Dalam keterangan tertulisnya, Din mengaku diundang untuk
menyampaikan pesan umat Islam.
Disebutkan bahwa dalam pidatonya, Din menjelaskan tentang
situasi dunia yang masih diliputi ketiadaan damai (the absence of peace).
Ketiadaan damai yang disebutkan Din, adalah kemiskinan,
kebodohan, keterbelakangan, kesenjangan, ketidakadilan, kekerasan, konflik, dan
perang.
“Maka agama-agama harus berperan
sebagai pemecah masalah. Oleh karena itu agama-agama perlu menampilkan misi
profetiknya,” kata Din.
Namun, katanya, agama-agama harus menyelesaikan
masalah-masalah dirinya, baik internal maupun eksternal, dengan agama-agama
lain. “Perlu diintensifkan dialog inter dan intra agama,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum PP Muhammadiyah juga
menyampaikan relasi antara Islam dan Kristen sebagai dua agama Ibrahim yang
memiliki perbedaan tetapi juga persamaan.
Menurut dia, saat ini waktunya untuk mengarusutamakan
persamaan-persamaan dan tidak membesar-besarkan perbedaan.
red: abu faza
sumber: Antara/ si online Rabu, 06/11/2013 21:51:49 | Shodiq
Ramadhan
***
Bandingkan dengan ayat-ayat Allah Ta’ala.
Ucapan Din Syamsuddin yang pernah membela agama sesat Syiah
itu dalam bicara di hadapan orang nashara ini kita lihat, apakah dia masih
berpegang pada kitab suci agamanya. Di antara peringatan Allah Ta’ala:
{ لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ
وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ
أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ
الْأُمُورِ } [آل عمران: 186]
186. kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu.
dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar, dari orang-orang yang diberi
kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan
yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka
Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk urusan yang patut diutamakan. (QS Ali
‘Imran: 186)
Cacian, makian, suara-suara yang tidak mengenakkan bahkan
menyakitkan orang Muslim yang dilontarkan orang-orang ahli kitab (yahudi dan
nasrani) dan orang-orang musyrik pasti terdengar di telinga orang-orang Muslim.
Lebih dari itu, bahkan nyawa Muslimin pun terancam, masjid-masjidnya dibongkar,
bayi-bayi yang akan lahir dihalangi secara ramai-ramai dengan propgram kafirin
yakni apa yang disebut keluarga berencana (KB) untuk menekan jumlah umat Islam.
Itu sebenarnya dan hakekatnya termasuk yang menyakitkan bagi Umat Islam.
Kalau Din Syamsuddin sesuai dengan jabatannya sebagai ketua
umum organisasi Islam besar, maka mestinya mengemukakan hal-hal yang menyakiti
Umat Islam di dunia ini, apalagi itu pertemuan Kristen sedunia. Tetapi rupanya
sebaliknya, justru menjilat Kristen setelah dia tidak ditindak oleh Ormasnya
walau kiprahnya selama ini tampak sebagai pembela syiah yang sesat, faham
liberal, dan pluralism agama alias kemusyrikan baru.
Cukuplah ayat Allah sebagai rujukan:
تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ
الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ
عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ !وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا
مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
“Kamu melihat kebanyakan dari mereka
tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat
buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah
kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman
kepada Allah, kepada nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya
(nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong,
tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al-Maidah: 80-81)
Ibn Taimiyah berkata tentang ayat ini: “penyebutan jumlah
syarat mengandung konsekuensi bahwa apabila syarat itu ada, maka yang
disyaratkan dengan kata “seandainya”
tadi pasti ada, Allah berfirman:
وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ
مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ
“sekiranya mereka beriman kepada
Allah, kepada nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (nabi), niscaya
mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi
penolong-penolong”.
Ini menunjukkan bahwa iman tersebut menolak penobatan
orang-orang kafir sebagai wali-wali (para kekasih dan penolong), tidak mungkin
iman dan sikap menjadikan mereka sebagai wali-wali bertemu dan bersatu dalam
hati. Ini menunjukkan bahwa siapa yang mengangkat mereka sebagai wali-wali,
berarti belum melakukan iman yang wajib kepada Allah, nabi dan apa yang
diturunkan kepadanya (al-Qur’an)” (Ibn Taimiyah, Kitab al-Iman, 14)
Sumber: Nahimunkar
0 komentar:
Posting Komentar