ALLAHU AKBAR ....!!! NEGERI JIRAN MALAYSIA SANGAT TEGAS !
MAJELIS ULAMA MALAYSIA PUNYA "LASKAR ANTI-SYI'AH"
...!!!
LALU DI INDONESIA KAPAN ..? KAPAN KITA GANYANG SYI'AH ..???
----------------------------------
“JIKA Pak Cik dan Mak Cik melihat pergerakan Syiah di
sekitar rumah, lapor saja polisi biar langsung ditangkap !!!”
UCAPAN itu keluar begitu saja dari lisan seorang ustadz
dalam bedah buku Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam di Malaysia. Sang Ustadz
berani berkata demikian karena Malaysia memang memliki perangkat untuk menjerat
Syiah ke jeruji penjara.
Tokoh terkemuka Syiah Malaysia, Abdullah Hasan, pernah
merasakan ganasnya sikap pemerintah Malaysia dengan aliran ini. “Saya dipenjara
selama dua tahun karena aktivitas Syiah,” katanya kepada Islampos.
Maka jika menelusuri masjid-masjid di Malaysia, kita akan
mudah mendapati pamflet-pamflet pengumuman tentang perbedaan pokok Syiah dengan
Ahlussunah. Himbauan itu dilengkapi dengan fatwa dari ulama Negeri (Provinsi)
terkait kesesatan ajaran Syiah.
Perhatian masyarakat untuk membendung penyebaran Syiah juga
begitu tinggi. Jika di Indonesia kita masih jarang mendengar Khotbah Jum’at
mengangkat kesesatan Syiah, maka di Malaysia fenomena itu justru menjamur di
tiap-tiap negeri.
Di Kedah misalnya, Ahli Jawatan Kuasa Persatuan Ulama Kedah,
Abdullah bin Din, justru mengajak masyarakat Malaysia mewaspadai bahaya Syiah
dalam Khutbah Jum’atnya di Masjid Al Hadi, Kedah.
Ulama Muda lulusan Yordania ini menilai ajaran Syiah
bertentangan dengan Islam. Dengan ideologi takfirinya, Syiah justru
mengkafirkan para sahabat Nabi yang mulia seperti Abu Bakar, Umar, dan Usman.
“Mereka juga menuduh para istri Nabi Muhammad telah
melakukan Zina,” katanya di hadapan lima ratus jamaah.
Ketua Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) Kedah ini menilai
Ahlussunah dan Syiah adalah dua ajaran yang berbeda. Karena ajaran Syiah jelas
bertentangan dengan Islam dari segi pokok ajaran.
Sementara itu Ketua Pertubuhan Solidariti Masyarakat
Malaysia, Musthafa Mansor menjelaskan penjelasan bahaya Syiah lewat mimbar Jum’at
memang menjadi pemandangan umum di Malaysia.
“Itu berlaku di seluruh Malaysia untuk menyadarkan bahaya
Syiah kepada warga Malaysia,” ujar pria kelahiran Negeri Perak ini kepada
Islampos.
Relawan Mavi Marmara asal Malaysia ini mengungkapkan
masyarakat memiki peran penting dalam membentengi akidah Ahlussunah Wal Jama’ah
dari inflitrasi Syiah. Pernah beristri seorang Syiah, Mustafa menyadari betul
ajaran ini dapat merusak keutuhan keluarga.
“Mantan Istri saya mengenal Syiah di Kampusnya, lambat laun
dia mulai meragukan Al Qur’an,” katanya.
“Bagaimana mungkin Saya membina anak-anak saya dengan ibu
yang meragukan Al Qur’an?” imbuhnya.
Tak lama kemudian Musthafa memutuskan untuk bercerai setalah
dialog menemui jalan buntu. Musthafa menekankan agar pemerintah lebih serius
membendung penyebaran Syiah di Kampus-kampus. Karena kampus menjadi tempat yang
sangat strategis bagi orang-orang Syiah untuk menyebarkan pemahamannya.
“Mantan istri saya kuliah di Kampus yang banyak melahirkan
tokoh-tokoh anti liberal, tapi tetap masih kena pengaruh Syiah,” akunya yang
sempat belajar di Suriah dan menyaksikan kekejaman Presiden Syiah Bashar Assad.
Hal menarik lainnya adalah keterlibatan penuh Ulama Malaysia
untuk membersihkan Syiah dari Malaysia. Jika di Indonesia, kita memiliki laskar
dari ormas-ormas Islam dalam melakukan perlawanan terhadap ajaran Syiah,
ketahuilah di Malaysia hal itu justru dilakukan oleh Majelis Ulama Malaysia
atau lebih dikenal dengan sebutan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM).
Sebagai negara yang menganut Mazhab Imam Syafi’i, Malaysia
menetapkan Syiah adalah ajaran yang membahayakan negara.
Tekad Majelis Ulama untuk mempidanakan penyebar ajaran Syiah
dapat dibuktikan saat Laskar dari Jabatan Agama Islam Pahang (JAIP) Malaysia,
menahan seorang petinggi Syiah. Imam Syiah tersebut dijerat pasal 165 dan 170
Ketentuan Administrasi Agama Islam dan Adat Melayu Pahang tahun 1982.
Upaya serius membendung pengaruh ini dilakukan seiring perkembangan
Syiah di Malaysia. Sekretaris Kementerian Dalam Negeri Malaysia Datuk Seri
Abdul Rahim Mohamad Radzi menyatakan bahwa pengikut Syiah 10 tahun yang lalu
hanya komunitas sekarang justru mencapai 250.000, termasuk 10 kelompok aktif,
di seluruh Malaysia.
“Perkembangan teknologi informasi adalah salah satu faktor
pertumbuhan penyebaran ajaran sesat mereka melalui berbagai situs sosial,” kata
Radzi.
Namun Pemerintah Malayasia tidak tinggal diam. Merasa
“kecolongan”, pemerintah langsung tancap gas untuk menyiapkan berbagai elemen
dalam mengawasi gerakan Syiah.
Maka langkah-langkah pemberantasan Syiah di Malaysia
melibatkan berbagai pihak baik Kementerian Dalam Negeri, Polisi, Registrar of
Societies, maupun kontrol publikasi di bawah UU Percetakan dan Publikasi. UU
ini berfungsi membatasi produksi CD dan DVD oleh Dewan Sensor Film serta
pemantauan oleh Departemen Imigrasi.
Kontrol ketat itu dibuktikan dengan keberanian Kementerian
Dalam Negeri Malaysia melarang peredaran tiga buku terbitan Indonesia di antaranya
Pengantar Ilmu-ilmu Islam karangan Murtadha Muthahari cetakan Pustaka Zahra
Jakarta, Dialog Sunnah-Syiah karangan A Syarafuddin Al-Musawi cetakan Mizan,
dan Tafsir Sufi Al-Fatihah Mukadimah karangan Jalaluddin Rakhmat cetakan Remaja
Rosda Karya. Alasannya buku itu mengandung materi yang bertentangan dengan
ajaran Islam.
Sumber: Islam Pos

0 komentar:
Posting Komentar