SEBAGAI partai bermoto peduli wong cilik, PDIP mengaku
sebagai partai nasionalis. Namun dalam kebijakannya, Megawati tunduk pada asing
dan banyak menjual aset negara. Saya ingin tanyakan bagaimana dengan Jokowi?
Apakah dia juga tunduk kepada asing, khususnya Amerika? Umat Islam belum
membaca ini dan masih silau dengan gaya “blusukan” Jokowi.
Dalam upaya menolak perluasan Kedutaan Besar Amerika Serikat
(Kedubes AS), perwakilan ormas Islam datang ke Balai Kota untuk menyuarakan
aspirasinya kepada Jokowi. Alasan ormas Islam menolak karena melihat rekam
jejak Amerika dalam menzhalimi umat Islam dan berbagai kegiataannya yang
merugikan Indonesia.
Sungguh tidak masuk akal sebuah kedutaan besar akan berdiri
hingga 10 lantai dengan nilai pembangunan mencapai 450 juta dollar AS atau
sekitar Rp 4,2 triliun. Gedung baru itu akan digunakan sebagai ruang kerja
seluas 36 ribu meter persegi. Dengan luas tersebut, maka Kedubes AS di
Indonesia akan menjadi terbesar ketiga setelah Irak dan Pakistan.
Anehnya, kompleks kedubes AS yang terletak di Baghdad, Irak
sangat tertutup. Di bagian luar, tentara AS menjaganya dengan sangat ketat. Tak
ada satu pun pihak di luar Amerika yang tahu apa kegiatan di dalam kompleks
ini.
Sedang di Pakistan, AS membangun kantor kedubes kedua
terbesar di dunia. Luasnya mencapai 7,2 hektar. Asia Times menyebut kantor
kedubes ini layaknya sebuah pangkalan militer. Di dalamnya, selain terdapat
staf biasa, ada juga 350 marinir AS yang didaftarkan sebagai staf tambahan.
Maka dalam kasus Indonesia, Ormas Islam mensinyalir proyek
perluasan kedubes AS yang melibatkan lebih dari 5.000 pekerja ini adalah bagian
dari mata-mata asing untuk menguasai Indonesia.
Sejujurnya upaya umat Islam meminta agar Jokowi menolak
perluasan Kedubes AS –yang tak jauh dari balaikota- adalah demi kepentingan
bangsa itu sendiri. Penjajahan yang Amerika lakukan terhadap sumber daya alam
di Indonesia haruslah dihentikan.
Dalam kasus Freeport, misalnya, selama ini Indonesia
mendapat bagian yang sangat kecil dibandingkan dengan yang diperoleh Freeport.
Tercatat, dari tahun 2005 – September 2010, total penjualan PT Freeport
Indonesia sebesar US$ 28.816 juta atau Rp 259,34 triliun; laba kotornya US$
16.607 juta atau Rp 150,033 triliun. Bandingkan dengan royalti yang dibayarkan
kepada Indonesia hanya sebesar US$ 732 juta atau Rp 6,588 triliun.
Kondisi semakin merugikan Indonesia karena selama dua tahun
Freeport ternyata tidak melakukan setoran kepada Indonesia. Wakil Menteri BUMN, Muhammad Yasin menyebut, seharusnya Freeport memberikan
deviden sebesar Rp 1,5 triliun setiap tahun. Namun, sudah dua tahun terakhir
perusahaan tambang emas terbesar di dunia ini berhenti memberikan deviden.
“Rata-rata Rp 1,5 Triliun. Tapi Dua tahun lalu sudah berhenti,” kata dia.
Dalam sejarah, Amerika tidak pernah melepaskan aktivitas
diplomatiknya tanpa dibarengi dengan kegiatan intelijen dan militer. Berkaca
pada kasus The US Naval Medical Research Unit (Namru). Amerika telah leluasa
bahkan tanpa control yang ketat dari pemerintah Indonesia dalam melakukan
kegiatan–kegiatan yang berkedok penelitian.
Banyak yang menduga bahwa perluasan kedubes ini memungkinkan
Amerika nantinya akan memindahkan unit–unit intelijen dan militernya ke dalam
kedubes. Apalagi sebuah kedubes adalah tempat di mana sebuah Negara memiliki
kedaulatannya sendiri dan pemerintah Indonesia tidak akan bisa menegakkan
hukumnya di tempat tersebut.
Respon Jokowi
Hampir 90 menit ormas Islam menunggu, akhirnya Jokowi
datang. Saat itulah, Ormas Islam akhirnya serempak menyampaikan uneg-unegnya.
Dimulai dari Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Rokhmat S Labib yang
mengingatkan akan terus mengalirnya dosa orang yang turut membantu membangun
gedung yang digunakan untuk markas intelijen negara penjajah Amerika itu. “Kalau Pak Jokowi bangun masjid
itu kan amal jariah, kalau membangun kedubes AS amal salah yang dosanya terus
mengalir,” Rokhmat mengingatkan.
Suasana pun jadi riuh rendah, Jokowi tersenyum lalu lempar
bola: “Bukan saya, Pak Putu…!”. Putu Indiana adalah Kepala Dinas Pengawasan dan
Penertiban Bangunan (P2B) DKI Jakarta
Namun Putu pun mengingatkan bahwa dirinya hanyalah pelaksana
teknis, kebijakan akhirnya ada di Jokowi. Maka Rokhmat pun meminta ketegasan
Jokowi untuk menolak memberikan IMB. “Saya ingin menerima jaminan bahwa Pak
Jokowi menolak!” tegasnya.
Jokowi hanya senyum-senyum saja. Pimpinan Ma’had Daarul
Muwahhid KH Shoffar Mawardi, dengan mimik wajah yang sangat serius berkata:
“Kami datang kemari untuk menyampaikan hal-hal yang tidak dipikirkan
pemerintah, padahal ini menyangkut masalah dunia akhirat Pak Jokowi dan
bangsa.”
Seakan mencoba menerka bahwa Jokowi tidak mau dengan tegas
menolak lantaran kuatir ditekan pihak Amerika, Jubir HTI Ismail Yusanto
berkomentar: “Kalau Pak Jokowi mendapat tekanan-tekanan, serahkan kepada kita,
biar kita bantu dari belakang.”
Jokowi tetap mesem-mesem, tidak mau menyatakan penolakannya
untuk menerbitkan IMB Kedubes AS. Abu
Bilal utusan dari Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) lalu angkat bicara karena
khawatir azab Allah akan semakin besar bila kedubes Amerika diperbesar.
“Pak Jokowi harus bersyukur dan berterima kasih, karena
inilah kerja nyata kami untuk membangun Jakarta, membangun bangsa ini, untuk
menghindari azab yang lebih besar dari Allah SWT.”
Saya yang saat itu hadir melihat benar bagaimana ormas Islam
sudah berusaha meyakinkan Jokowi dengan berbagai cara. Sampai-sampai perwakilan
ormas bertanya apa sebenarnya pandangan hati kecil Jokowi. Minimal jika Jokowi
menolak, umat bisa lega. Karena Gubernur merestui perjuangan mereka. Namun
hingga akhir pertemuan, Jokowi tetap bungkam.
Pertemuan ini menjadi pelajaran penting bagi umat Islam
dalam melihat bagaimana sikap Jokowi terhadap Amerika dan siapakah Jokowi
sesungguhnya.
Klaim-klain nasionalisme yang selama ini disuarakan PDIP dan
Jokowi tampaknya sirna. Negara yang selama ini telah mengeruk sumber daya alam
bangsa dan membuat rakyat miskin bisa bebas melakukan kegiatan yang merugikan
negara.
Dan kini, perluasan kedubes AS terus berjalan. Tahun 2017 dikabarkan proyek perluasan ini
akan rampung. Dan bukan tidak mungkin jalan Amerika semakin mulus, mengingat
Jokowi digadang-gadang menjadi Presiden RI
Sumber: Islam Pos
Sumber: Islam Pos

0 komentar:
Posting Komentar